kinaryabagus consulting

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Racun Korporat – Kisah Tentang Tujuh Orang

User Rating: / 2
PoorBest 

CEOMungkin Anda pernah mendengar atau membaca cerita tentang “Mentalitas Racun Korporat”.  Sebuah anekdot tentang mentalitas dalam kehidupan kantor yang mungkin terasa ekstrim namun bisa jadi inilah yang Anda atau rekan Anda alami. Berikut ceritanya…

CEO bernama Jack itu baru saja menyampaikan pidato gemilangnya kepada anak buahnya perihal cara mendongkrak perilaku dan nilai yang bagus. Anda mungkin berbicara tentang hal ini. Lagi pula, mana ada CEO yang berbicara tentang cara mendapatkan yang buruk?

Jack adalah orang melaksanakan apa yang dikatakannya. Jack percaya pada ungkapan “Praktekkan apa yang Anda khotbahkan”. Walk the Talk, istilah kerennya. Dan adalah salah satu hal yang dikhotbahkan Jack pada Sabtu pagi itu adalah mengenai tepat waktu. Dengan sendirinya, hari Senin itu Jack bangun lebih pagi daripada biasanya agar ia bisa tepat waktu dan melaksanakan apa yang dikatakannya.

Ia bangun 30 menit lebih awal daripada biasanya. Namun apa yang terjadi? Mobilnya mogok. Ia menghabiskan waktu 45 menit untuk mengatasi masalah itu dan mengganti pakaiannya yang basah oleh keringat. Jadi Jack bukannya lebih pagi 30 menit, tetapi terlambat 15 menit. Secara naluriah, Jack menginjak pedal gas dan mengebut sampai kecepatan 100 km/jam dan bahkan lebih. Dan lebih.

Tiba-tiba ada lampu berpendar-pendar. Tebakan Anda jitu. Itu adalah polisi lalu lintas. Akan selalu ada polisi yang mengintai orang yang sedang tergesa-gesa. Dan Jack pun marah besar. Menurutnya, polisi seharusnya menghabiskan waktu dan upaya mereka untuk mengamankan Negara, mengejar pencuri  serta perampok, dan bukannya mengurusi orang-orang seperti dirinya yang menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang lain dan memberikan sumbangan pada Gross Domestic Product negara. Tetapi sudah barang tentu sang polisi tidak mau tahu tentang alasannya. “Tolong perlihatkan KTP dan SIM Anda. Dan ini kartu tilang Anda. Terima kasih, semoga hari Anda menyenangkan,” katanya.

Jack menonjok langit-langit mobilnya. Dia benar-benar marah. Marah besar. Begitu marahnya hingga ketika ia tiba di kantor, ia memanggil John, direkturnya, lalu bertanya, “Apa yang terjadi dengan rencana strategis kita?”
John menjawab dengan sedikit membela diri, “Saya sangka kita baru akan membicarakan hal ini bulan depan.”
Jack membentak, “Begini, John. Kami mempekerjakan Anda sebagai direktur dengan gaji $9.000 sebulan. Dan bila Anda ternyata hanya mampu bekerja atas dasar bulanan, saya sarankan Anda mencari pekerjaan di tempat lain!”

Dan bila Anda mengira bahwa Jack marah, John bahkan lebih marah lagi sekarang. John memanggil Jeremy, manajernya, dan bertanya kepadanya, “Bisakah Anda mengatakan apa yang terjadi dengan rekening XYZ?”
Jeremy menjawab dengan  agak defensif, “Saya sangka kita baru akan membahasnya minggu depan.”
John membentak, “Dengar, Jeremy, kami mempekerjakan Anda sebagai manajer dengan gaji $5.000 sebulan. Dan bila Anda hanya mampu bekerja atas dasar mingguan, saya sarankan Anda mencari pekerjaan di tempat lain!”

Sekarang giliran Jeremy-lah yang marah. Ia lalu memanggil Joan, sekeretarisnya, dan bertanya, “Dimana proposal yang saya suruh Anda persiapkan untuk perusahaan ABC?”
Joan menjawab dengan sedikit defensif, “Saya sangka kita baru akan mengirimnya besok.”
Jeremy membentaknya, “Begini Joan, kami mempekerjakan Anda sebagai sekretaris dengan gaji $1.500 sebulan. Dan bila Anda hanya bisa bekerja atas dasar harian, saya sarankan Anda bekerja ditempat lain!”

Joan melangkah ke meja penerimaan tamu untuk membentak Jessica, sang resepsionis, “Dengar, Jessica, kami mempekerjakan Anda sebagai resepsionis dengan gaji $1.500 sebulan. Dan sepanjang hari saya mendapat keluhan karena Anda tidak menjawab telepon dan bersikap tidak sopan. Bila Anda tidak mampu menjawab telepon dengan pantas, saya sarankan Anda mencari pekerjaan di tempat lain saja!”

Jessica marah, tetapi di dalam perusahaan itu tidak ada orang yang harus memberikan laporan kepadanya. Karena itu ia memendam amarahnya dan membawanya pulang. Ketika ia melangkah ke ruang duduk, ia melihat Johnny, putranya  yang berusia Sembilan tahun, sedang menonton televisi. Jessica pun berteriak kepada Johnny, “Dengar, Johnny, Mama bekerja keras sepanjang hari supaya kamu bisa bersekolah. Dan kamu cuma menonton TV melulu. Ada apa dengan kamu? Malam ini kamu tidak boleh makan dan cepat masuk kamarmu.”
Saat masuk ke kamarnya, Johnny yang marah melihat Jake, anjingnya, sedang berbaring di sebelah tempat tidur. Ia pun menghampiri Jake dan menendangnya dengan kesal.

Dan inilah akhir dari kisah tentang ketujuh J tersebut.

Anda melihat bahwa kehidupan korporat bisa cukup buruk. Terkadang kita bukannya memecahkan persoalan, tetapi justru menyebarkan racun di sekitar kita dan membuat tegang semua orang.
Bukankah Anda berpikir bahwa setelah dihentikan oleh polisi Jack lebih baik langsung menuju rumah Jessica dan menendang sang anjing? Bayangkan betapa cara ini bisa menghindari sengsara dan kepedihan yang dialami semua orang tadi. Tetapi tidak, yang terjadi biasanya adalah kita turut serta menyebarkan racun korporat itu.

Terkadang kantor menjadi tempat kerja yang gila. Dan Anda harus mengatur orang-orang yang lebih gila, yang membenci harus pergi ke tempat kerja. Dan Anda sendiri bekerja bagi seorang bos yang mungkin saja juga mempunyai mentalitas bekerja seperti itu.

Semoga ini tidak terjadi pada diri Anda, rekan Anda, keluarga dan tempat bekerja Anda.

 

Last Updated on Saturday, 20 June 2009 12:43  
English French German Italian Japanese Spanish Indonesian

Please Login to Book Training

Who's Online

We have 1 guest online

Newsflash

 

Daftarkan diri Anda untuk mendapatkan pelatihan GRATIS!!!
Silahkan Login terlebih dahulu atau klik disini untuk mendaftar.
Daftarkan diri Anda untuk mendapatkan pelatihan GRATIS!!!
Silahkan Login terlebih dahulu atau klik disini untuk mendaftar.